Friday, January 20, 2012

mahasiswi IAIN Walisongo dibunuh

DEMAK - Keluarga SF, perempuan 23 tahun yang tewas dibunuh oknum TNI yang bertugas di Kodam IV Diponegoro, Jawa Tengah, meminta kasus kematian anak mereka diusut hingga tuntas. Keluarga korban menegaskan tidak akan menempuh jalan damai.

Syaiful Adnan, paman korban, mengaku keluarga tidak menyangka, Sertu HE yang masih tetangga di Desa Banyumeneng, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jateng, itu tega membunuh keponakannya. Korban dan pelaku sudah berpacaran sejak beberapa tahun lalu.

Sementara itu Kepala Desa Banyumeneng, Muhammad Naim, mengatakan tiga hari sebelum pembunuhan SF, pelaku meminta surat pengantar untuk menikah. Namun dalam surathttp://www.blogger.com/img/blank.gif pengantar tersebut, HE bukan menikah dengan korban. melainkan dengan perempuan lain asal Pati.

Konflik cinta segitiga inilah yang diduga menjadi motif pembunuhan terhadap mahasiswi IAIN Wali Songo Semarang yang juga guru bahasa Inggris di sebuah madrasah tsanawiyah itu.

Seperti diketahui, SF ditemukan tewas tanpa identitas dengan luka jeratan di leher dan pukulan benda keras di wajah di hotel kawasan wisata Bandungan, Kabupaten Semarang. Pelaku kini diperiksa di Denpom Salatiga.

Jenazah korban dimakamkan di area pemakaman Ki Ageng Giri pada Jumat sore kemarin.
lihat berita selengkapnya di sini

Friday, December 23, 2011

Ketidakadilan Hukum di Indonesia

bener-bener rusak .....
hukum di indonesia ini bener-bener rusak.,.,
seorang anak SMP mencuri sandal seekor polisi yang seharga 30rb dikenakan vonis 5 tahun penjara.,
sedangkan ber-ekor2 koruptor yang tertangkap hanya dikenakan vonis tidak lebih dari 1,5 tahun penjara.,
Bhineka Tunggal Ika yang ironis.,
apa makna dan tugas hakim yang sebenarnya ????
sebagai anak muda bangsa, mari bersama-sama kita membela kesatuan republik indonesia, agar keutuhan Bhineka Tunggal Ika tetap terjaga. kalau tidak, lebih baik cengkraman Bhineka Tunggal Ika pada burung garuda lebih baih dilepas saja.

Monday, January 31, 2011

Tersangka TC Budiningsih Siap Ditahan

Andrie Yudhistira
Tersangka TC Budiningsih Siap Ditahan

01/02/2011 13:18
Liputan6.com, Jakarta: Satu dari lima tersangka kasus travelers cheque (TC) yang mangkir pemanggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pekan lalu, akhirnya siang ini mendatangi KPK. Anggota Komisi IX periode 1999-2004 Budiningsih datang ke KPK sekitar pukul 11.50 WIB dengan didampingi kuasa hukumnya Sirra Prayuna.

Menurut Sirra, kliennya tersebut sudah mempersiapkan diri jika nantinya setelah pemeriksaan ini akan langsung ditahan KPK.

"Kalau bicara penahan itu wewenang penyidik, tapi kan dilihat SP-nya (surat penahanan), kita tunggu nanti. Ia dia (Budiningsih) sudah siap (jika ditahan). Insya Allah," ujarnya saat mendampingi kliennya ke KPK, Jakarta, Selasa (1/2).

Menurut pengakuan Sirra, kliennya hari ini datang sebagai wujud komitmennya terhadap penegakan hukum yang dilakukan KPK. Ketidakhadiran kliennya tersebut dikarenakan ada kesibukan.

"Ia, sedianya beliau ini hadir minggu lalu. Tapi karena ada kondisi kesibukan sehingga beliau bisa memenuhinya hari ini. Dia kan punya pekerjaan, ngurus keluarga dan sebagainya," terang Sirra. "Kita juga sudah koordinasi dengan KPK untuk menunda panggilan itu," lanjutnya.

Sementara itu, Budiningsih ketika ditanya perihal kesiapannya untuk ditahan tak menjawab secara jelas. "Hmm.. Hhmm...," gumamnya.

Keempat tersangka lain yang belum ditahan yakni Bobby Suhadirman (Golkar), Willem Tutuarima (PDIP), Rusman Lumban Toruan (PDIP) dan Hengky Baramuli (Golkar). Mereka tidak hadir dalam pemeriksaan pekan lalu dengan alasan sakit.

Seperti diketahui, pada Jumat pekan lalu, KPK menahan 19 dari 26 tersangka kasus cek perjalanan. Mereka ditahan di empat rutan terpisah. (MEL)
berita lebih lengkap, klik di sini

Sunday, November 14, 2010

Kasus-kasus Pornografi di Depan Hukum Kita

18 October 2010 | Kategori: Berita

Oleh Sri Nurherwati

Komisioner, Ketua Sub.Komisi Pengembangan Sistem Pemulihan
Komnas Perempuan

Seorang perempuan asal Karanganyar Jawa Tengah, sebut saja D. Ia dilarang orang tuanya menikah dengan P. Suatu saat, P mengajak D melakukan hubungan seksual. Adegan tersebut atas kesepakatan D dan P. Hasil rekaman diserahkan pada orang tua D dengan maksud agar orang tua D menyetujui pernikahan mereka. Belakangan diketahui, P ternyata menggandakan video pada sebuah rental dan menyebarkan kepada teman-temannya. Kabar beredarnya video diketahui Polsek Colomadu Karanganyar. Seketika D ditangkap dan ditahan.

Pada persidangan, majelis hakim tidak kesulitan untuk mendefinisikan pornografi dalam kasus tersebut, dimana di dalamnya terdapat unsur menunjukkan alat kelamin dan hubungan seksual. Dalam prosesnya, D, P dan rental yang menggandakan rekaman video diproses secara terpisah. Majelis hakim berpendapat D adalah korban. Karenanya memutuskan D dihukum lima bulan, lebih ringan daripada hukuman P dan pihak rental yang masing-masing dihukum satu tahun dan satu tahun enam bulan pidana penjara.

Pada kasus lain di Bandung, empat orang perempuan korban trafficking dipaksa melakukan tarian dan goyangan di depan umum. Hal itu dilakukan agar penonton memberikan tip untuk diserahkan kepada penyelenggara. Keempat penari tersebut ditangkap dan ditahan karena dianggap melanggar UU Pornografi.

Mari kita analisa dua kasus di atas dengan menggunakan aturan hukum yang ada di Indonesia. Dalam Pasal 1 angka 1 UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi disebutkan, pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukkan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

UU Pornografi menggunakan KUHAP sebagai hukum acara sejak penyidikan hingga pemeriksaan di depan persidangan. Penggunaan KUHAP dalam kasus ini mengakibatkan baik D maupun keempat penari dianggap sebagai pelaku pornografi seperti tercantum dalam Pasal 8 dan Pasal 34 UU Pornografi. Akibatnya tidak ada perlakuan khusus bagi para penari dan D yang sebetulnya adalah korban kekerasan terhadap perempuan.

Pasal 8 UU Pornografi dalam penjelasan menegaskan model/objek pornografi yang mengalami pemaksaan, ancaman kekerasan, tipu muslihat tidak dipidana. Namun, penggunaan KUHAP telah menghalangi para penari dan D mendapatkan haknya atas perlakuan khusus dan keadilan sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 28H ayat (2) dan Pasal 28D ayat (2) UUD 1945.

Para penari yang seharusnya diperlakukan sebagai korban trafficking justru menjadi terhukum dalam kasus pornografi sehingga hak konstitusional untuk tidak mendapatkan diskriminasi sebagaimana ditegaskan Pasal 28I ayat (2) UUD 1945 menjadi terlanggar. Demikian juga dengan D, yang sama sekali tidak memiliki tujan untuk menyuburkan industri pornografi sebagaimana menjadi target UU Pornografi.

Dalam kedua kasus, korban tidak mendapatkan pendampingan dan bantuan hukum. Hal ini mempengaruhi korban dalam memberikan keterangan baik sebagai saksi maupun korban. Ketiadaan pendamping dan bantuan hukum yang tidak diatur dalam UU Pornografi sesungguhnya mengurangi hak korban mendapat pengecualian untuk tidak dipidana.

Tulisan ini telah dimuat di newsletter edisi 5, September 2010
suber klik di sini

kasus pembunuhan nasrudin zulkarnain terungkap

Liputan6.com, Jakarta: Kepolisian Daerah Metro Jaya berhasil menangkap sembilan pelaku pembunuhan Nasrudin Zulkarnain, direksi sebuah perusahaan Badan Usaha Milik Negara. Dua di antara pelaku menjadi eksekutor penembakan, sementara seorang pengusaha berinisial SW ikut diseret sebagai otak pembunuhan.

Kapolri Jendral Bambang Hendarso Danuri, menjelaskan, Kamis (30/4), penangkapan para pelaku berawal dari keterangan sejumlah saksi. Mereka menyebutkan adanya seorang pelaku yang melarikan diri ke luar Pulau Jawa. Dari pelaku itulah polisi berhasil menangkap delapan lainnya beserta sang pengusaha.

Kasus pembunuhan ini terjadi pada Maret silam di kawasan Tangerang, Banten. Sejumlah orang tak dikenal membuntuti korban dengan sepeda motor dan mobil. Nasrudin yang baru selesai bermain golf pun langsung ditembak sebanyak dua kali [Baca: Nasrudin Zulkarnain Akhirnya Meninggal].

Hingga kini, polisi masih memeriksa kesembilan pelaku. Hasil sementara menunjukkan, mereka melakukan pembunuhan atas suruhan pengusaha yang menjanjikan imbalan uang puluhan juta rupiah. Polisi menyimpulkan adanya motif persaingan bisnis dan masalah wanita. Polisi pun menduga masih ada sejumlah orang yang ikut terlibat dalam kasus tersebut.(OMI/Albert Ade)

Saturday, November 13, 2010

8 Kasus Pembunuhan Berantai di Indonesia dalam 15 Tahun


Nyawa sepertinya sudah tidak ada harganya lagi !! bahkan seorang manusia pun sepertinya sudah tak mempunyai naluri kemanusiaan … manusia bisa kejam melebihi binatang … sungguh disayangkan, bila manusia yang di beri kelebihan untuk berpikir ternyata tak bisa menggunakan kelebihannya .. bertindak sesukanya … inikah manusia saat ini ?
Jakarta – Tersingkapnya kasus-kasus pembunuhan yang dilakukan Very Idam alias Ryan, menambah catatan rangkaian pembunuhan berantai di Indonesia. Selama 15 tahun terakhir, sedikitnya ada 8 pembunuhan berantai. Yang jadi korban, bisa teman dekat, ada juga yang tak punya hubungan apa-apa dengan pelaku.
Para pelaku pembunuhan berantai itu divonis hukuman mati. Kasus pembunuhan berantai apa dan siapa saja pelakunya?
1994 – Harnoko Dewanto, pelaku pembunuhan 3 orang di Los Angeles, Amerika Serikat (Gina, Eri, Suresh). Vonis hukuman mati
1996 – Ny Astini, pelaku pembunuhan 3 orang di Surabaya. Vonis hukuman mati dan telah dieksekusi tahun 2005
1996 – Siswanto (Robot Gedhek), pelaku pembunuhan 6 anak jalanan di Jakarta. Vonis hukuman mati dan telah meninggal dunia pada 2007
1997 – Ahmad Suraji, pelaku pembunuhan 42 wanita di Medan. Vonis hukuman mati, telah dieksekusi pada 2008
2001- Rio Alex Bulo (Rio Martil), pelaku pembunuhan 4 orang di Jabar, Jateng, Jatim ditambah 1 orang selama di LP Nusakambangan. Vonis hukuman mati
2005 – Iptu Garibaldi Handayani, pelaku pembunuhan 7 orang di Jambi. Vonis hukuman mati
2007- Tubagus Yusuf Maulana (Dukun Usep), pelaku pembunuhan 8 orang di Lebak. Vonis hukuman mati, telah dieksekusi 2008
2008- Verry Idham Henyaksah (Ryan), pembunuhan terhadap 5 orang: 1 orang di Depok dan 4 orang di Jombang, Jawa Timur. Diduga masih ada korban-korban lainnya. Kasus masih dalam tahap penyidikan.(asy/asy)
info : detik.com
tambahkan saya sebagai teman